Kamis, 12 Juni 2008

Julius Kardinal Darmaatmadja SJ: Sang Nelayan Penjaring


Kardinal Indonesia yang juga Anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama ini terpanggil dan terpilih sebagai nelayan penjaring: "Atas perintahMu, kutebarkan jalaku." Ia juga melayani sebagai Uskup Agung Jakarta. Pastor kelahiran Jagang, Muntilan, 20 Desember 1934, ini menyukai warna serba biru yang melambangkan warna damai. "LIFE goes on", begitu kata orang Inggris. Memang, kehidupan terus berjalan dan berjalan. Seiring dengan perjalanan kehidupan, berbagai peristiwa mengisi dan mewarnai kehidupan itu sendiri. Hal itu pula yang menghiasi perjalanan hidup Julius Kardinal Monsinyur Rijadi Darmaatmadja SJ, Uskup Agung Jakarta, yang sudah lebih dari 70 tahun. JULIUS adalah nama tambahan sebagai seorang Katolik. Rijadi, nama kecil saat lahir di Salam, Jawa Tengah, 20 Desember 1934. Kardinal adalah jabatan konsultatif sejak dilantik 27 November 1994 di Roma oleh Paus Yohanes Paulus II. Monsinyur adalah panggilan untuk pemegang jabatan uskup (sebagai Uskup Agung Semarang 1983-1996, dan Uskup Agung Jakarta 1996-sekarang). Darmaatmadja, nama kedua orangtuanya, pasangan Joachim Djasman Djajaatmadja dan Maria Siti Soepartimah. SJ atau Serikat Jesus, sebab dia anggota ordo yang didirikan Santo Ignatius de Loyola tahun 1534 itu. Namun, wajah dan postur tubuhnya tidak menunjukkan bahwa dia sudah berusia lebih dari 70 tahun. Motivasi yang tinggi untuk terus berkarya tampaknya menjadi lokomotif yang membuat Kardinal tampak selalu bersemangat bekerja. Karena itu, ketika ditanya sampai kapan akan mengambil jeda dari sebuah perjalanan panjang, Kardinal menyatakan, sama seperti sebelum usia 70 tahun. "Saya menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan, sampai kapan saya bisa menyelesaikan tugas peziarahan saya. Kalau Dia menghendaki saya kuat bekerja, saya akan terus bekerja," ujarnya. Meski demikian, Kardinal amat menyadari, menjadi tua akan disertai munculnya aneka kelemahan. Sebagai orang tua, spiritualitas kerja yang sebelumnya menghiasi kehidupan tidak bisa lagi dijalankan. Spiritualitas kerja itu harus diganti. "Orang yang biasa bekerja, lalu tidak bekerja lagi ketika tua, tentu bingung. Itu biasa. Juga kalau dulu biasa menasihati, sekarang tak ada yang meminta nasihat. Kalau dulu bisa berfungsi terhadap orang lain, lalu tidak berfungsi lagi. Itu semua menjadi perubahan hidup yang harus dihadapi. Maka, sebagai orang tua harus mencari fungsi baru. Di sana ada passio, ada rendah hati, ada pengabdian, ada penyerahan diri. Maka sekarang pun mulai dikembangkan, pendampingan terhadap para orangtua," katanya. Kini, di tengah kesibukannya sebagai pemuka umat Katolik, Kardinal juga sibuk menjalin persaudaraan dengan pemimpin umat yang lain. Ia akrab dengan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Syafii Maarif; dengan KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU); KH Abdurrahman Wahid, Ketua Umum Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Nurcholish Madjid, cendekiawan, dan lain-lain. Ia perlu memberi contoh kepada para pastor dan umat Katolik untuk membangun persaudaraan sejati dengan umat yang lain. "Upaya membangun persaudaraan dengan umat lain itu harus kontekstual. Maka para pastor yang berkarya di tengah masyarakat pun harus berkarya dalam pastoral kontekstual. Mulailah dengan berkunjung, saling mengenal. Jalankanlah hidup bertetangga dengan baik. Kalau sudah saling mengenal, lalu saling peduli. Entry point-nya adalah peristiwa-peristiwa keluarga, seperti kelahiran, khitanan, perkawinan, kematian, dan sebagainya," ucapnya. Atas pemahaman itu, tidak mengherankan apabila sebagai pemimpin, Kardinal sering berpesan agar kehadiran umat Katolik di masyarakat menjadi rahmat bagi yang lain. "Ini tidak mudah dijalankan, di tengah pengaruh macam-macam. Menjadi rahmat bagi masyarakat akan menjadi jelas apabila kedatangannya selalu dirindukan oleh orang lain," paparnya. Menyinggung kondisi masyarakat secara umum, Kardinal amat prihatin betapa nilai agama dan iman tidak lagi memengaruhi kehidupan. Orang bisa membunuh seenaknya. Juga nilai budaya tak lagi berdampak pada perilaku. Begitu pula nilai ideologi tak lagi bisa berperan dalam kehidupan bernegara. "Amat disayangkan, ketiga hal itu tidak lagi bisa banyak berperan dalam membangun hidup bermasyarakat dan bernegara. Maka kekuatan agama diharapkan bisa menjadi kekuatan moral guna membangun kembali nilai agama, budaya, dan ideologi dalam hidup bermasyarakat," katanya. Meski demikian, ia enggan menjawab pertanyaan sekitar relasi antar-agama yang didasarkan generalisasi. Masalahnya, begitu banyak hal yang melatar-belakangi berbagai masalah yang ada di masyarakat. Misalnya dikatakan, hubungan antar-agama jelek, sampai saling membunuh. "Bukti ini benar, tetapi ada bukti lain yang juga benar, betapa semua kelompok agama menjalin hubungan dengan amat baik. Ada banyak bukti, saudara-saudara kita yang Muslim mau menjaga gereja agar kita bisa beribadah dengan tenang. Itu pula yang menyebabkan bom yang dikirim ke Katedral beberapa tahun lalu hanya meledak di luar, bukan di dalam gereja," ujarnya menambahkan. Apabila disebut postur tubuhnya tampak lebih muda, itu karena Kardinal berusaha menjaga kebugaran dengan hidup teratur, melakukan relaksasi, termasuk rutin berolahraga "tread mill" setengah jam sehari. Lahir sebagai anak bungsu dari enam saudara keluarga guru, perjalanan panggilan hidup Rijadi lancar-lancar saja. Tamat sekolah menengah pertama (SMP), masuk Seminari Menengah Mertoyudan, novisiat SJ dua tahun di Girisonta, belajar filsafat di Poona, India, teologi di Yogyakarta, dan ditahbiskan sebagai pastor oleh almarhum Kardinal Darmoyuwono tanggal 18 Desember 1969. "Kalau diberi umur panjang, tahun 2009 nanti saya genap 13 tahun berkarya di Keuskupan Agung Jakarta, dan berusia 75 tahun. Selama 13 tahun juga saya sebagai Uskup Agung Semarang (1983-1996). Tuhanlah yang mengatur ini semua," katanya menambahkan.
(Yohannes Sugiyono Setiadi / Sumber KOMPAS, 20 Desember 2004)

Tidak ada komentar: